IWAN SETIYAWAN/KOMPAS
Bonggol-bonggol Tua Penanda Sejarah
Kamis, 18 Januari 2018 - 10:59 WIB

Aloysius B Kurniawan, Vina Octavia

Harian Kompas/Jakarta

Di lereng Gunung Pulosari, Desa Pandat, Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Somad (60) menunjukkan sulur-sulur tanaman rambat dengan lingkar batang lebih dari 6 sentimeter. Itulah bonggol-bonggol lada tua yang diduga merupakan sisa-sisa perkebunan lada Kerajaan Banten Girang.

Sebagian sulur-sulur besar itu berserakan di tanah. Ada pula yang merambat tinggi melilit di sekeliling pohon- pohon dadap besar. ”Kami tak tahu sejak kapan lada-lada ini ditanam. Yang jelas, sejak dahulu tanaman ini memang sudah tumbuh di hutan ini,” kata Somad, warga setempat, April lalu.

Penemuan tanaman lada tua ini cocok dengan isi dokumen kuno Belanda tahun 1800-an yang menyebutkan bahwa sekitar 180 daerah di Banten di sekitar Gunung Karang, Gunung Pulosari, dan Gunung Aseupan merupakan penghasil lada. Selain mencantumkan nama-nama daerah atau kampung- kampung penghasil lada, dokumen itu mendata nama-nama petani hingga pengepul lada pada saat itu.

Untuk menelusuri di mana lokasi daerah penghasil lada zaman dahulu, para peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mencocokkan isi dokumen Belanda itu dengan peta lama tahun 1940-an. ”Kami menggunakan peta tua untuk mencari nama-nama kampung lama yang masuk dalam naskah itu. Dari situlah kami mencoba menelusuri titik lokasinya,” kata arkeolog senior Puslit Arkenas, Sonny Wibisono.

Hampir di semua daerah itu tanaman lada sudah sulit ditemukan. Namun, setelah ditelusuri, ternyata di pelosok kampung Desa Pandat di lereng Gunung Pulosari masih tersisa tanaman- tanaman lada tua.

Nama daerah Pandat memang tercatat dalam dokumen kuno Belanda sebagai kawasan penghasil lada. Selain menemukan bonggol-bonggol lada tua, di daerah itu para arkeolog juga menemukan kepingan keramikkeramik China peninggalan abad ke-14 hingga ke-16 serta batu-batu penggilas, batu landasan, dan gilasan berbentuk cobek yang kemungkinan digunakan untuk menggerus lada.

”Penemuan lada-lada tua, keramik, dan batu-batuan ini menguatkan fakta sejarah bahwa Banten Girang (cikal bakal Banten Lama) dulu jadi kerajaan penghasil lada sekitar abad ke-9 sampai 14, ” papar Sonny.

Komoditas Strategis

Joanna Hall Brierly dalam bukunya Spices, The History of Indonesia’s Spice Trade (1994) mencatat, lada sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-6 melalui Pulau Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, lada mendapat sebutan nama baru merica yang diambil dari bahasa Sanskerta.

Pada abad ke-7, lada tumbuh sebagai komoditas perdagangan paling menguntungkan yang didatangkan Kepulauan Nusantara (Banten dan Sumatera) ke China. Memasuki abad ke-16, perdagangan lada di China bergeser ke Pelabuhan Banten.

Pada masa itu, Banten menjadi pusat perdagangan Asia. Setiap tahun sekitar 1.500 ton lada diekspor dari Banten ke China.

Selain ke China, negara-negara Eropa secara rutin mengimpor lada dari Banten rata-rata 3.000 ton per tahun. Sementara Amerika baru mulai merambah perdagangan lada pada pertengahan abad ke-18 saat rute pelayaran reguler dari kota Salem- Massachusetts ke Batavia dibuka.

Karena ramainya tata niaga lada, hampir semua pedagang dari banyak negara tinggal di kota pesisir Banten. Sketsa ilmuwan Belanda, Serrurier, pada 1902 menunjukkan daerah Karangantu sebagai permukiman orang-orang asing, antara lain China, Malaya, Portugis, dan Belanda.

Akhir abad ke-12, penulis China, Zhao Rugua, juga menyebut Banten sebagai daerah penghasil lada. Pada masa itu, lada merupakan produk perdagangan utama jalur sutra selain pala, cengkeh, dan kayu manis.

Tome Pires, ketika pertama kali berlabuh di Banten pada 1512, mencatat Banten sebagai kerajaan penghasil merica yang mutunya lebih baik daripada merica Cochin atau Kochi, negara bagian Kerala, India. Karena amat diminati negara-negara luar, lada terus dikembangkan sebagai komoditas pertanian utama pada masa itu.

Cocok Dikembangkan

Lada pertama kali dibawa para pedagang Arab dan Persia, lalu ditanam di sekitar Banten. Dari Banten, tumbuhan itu lalu dikembangkan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur.

”Lada merupakan tanaman asli India yang dibawa ke Nusantara dan dikembangkan pertama kali di Banten. Kebetulan, tanaman itu cocok dibudidayakan di daerah tersebut,” kata Pasril Wahid, pakar tanaman lada sekaligus mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Kementerian Pertanian.

Namun, karena hasilnya kurang bagus, lada lalu dibawa ke seberang pulau di Sumatera. Di sana, lada tumbuh subur dan bisa dikembangbiakkan menjadi berbagai macam varietas baru.

”Di Sumatera bermunculan varietas-varietas lada yang menunjukkan nama tempat, yakni Aceh, Kerinci, Jambi, dan sebagainya. Varietas-varietas ini juga bisa ditemukan di Bangka, Kalimantan Barat, hingga Serawak di Malaysia,” kata Pasril.

Salah satu varietas lada yang sampai kini masih dibudidayakan di Sumatera, khususnya Lampung, adalah Natar 1. Sama seperti penamaan varietas-varietas lada lain, nama Natar berasal dari nama sebuah daerah kecamatan di Lampung Selatan.

Varietas Natar 1 merupakan pengembangan dari varietas varietas lama bernama Belantung yang berasal dari Desa Merak Belantung, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.

Varietas Natar 1 cenderung lebih toleran terhadap serangan busuk pangkal batang. Selain itu, tingkat produktivitas lada ini agak tinggi, mencapai 4 ton per hektar. Karena itu, Natar 1 paling dominan dibudidayakan para petani di Lampung untuk diolah menjadi lada hitam.

Pasokan Lada Lampung

Kehadiran lada di Lampung tidak lepas dari kebutuhan pasokan lada Kesultanan Banten. Karena itu, Banten memperluas wilayahnya hingga ke Lampung.

Dalam catatan dalung yang memuat perjanjian hukum antara Banten dan Keratuan Darah Putih Lampung, ada ketentuan, salah satunya orang Lampung diminta menanam lada sedikitnya 500 batang per orang. Sampai tahun 1700-an, saat Belanda berkuasa, permintaan lada di Banten dan Lampung tinggi.

Bukti-bukti kerja sama tata niaga lada antara Kesultanan Banten dan Keratuan Darah Putih masih disimpan ahli waris Keratuan Darah Putih. Putra pemimpin Keratuan Darah Putih Dalom Kesuma Ratu 3, Raden Kesuma Yuda Budiman Yakub, April lalu, menunjukkan tiga cap besi berbentuk bulat, salah satunya bertuliskan huruf arab pegon berbunyi ”Dalom Kesuma Ratu. Dari yang perintah Negeri Banten Kepala di Sekampung”.

Cap pertama adalah Cap Keratuan Darah Putih, sedangkan cap kedua dan ketiga yang berukuran lebih kecil merupakan cap stempel jual beli. ”Cap kedua dan ketiga adalah stempel dagang. Salah satunya ialah cap khusus perdagangan lada dengan Kerajaan Inggris,” kata Budiman.

Tiga stempel bersejarah itu menandai arus perdagangan hasil bumi lada Lampung. Pada abad ke-16, Lampung dikenal sebagai penghasil lada yang turut memasok kebutuhan lada Kesultanan Banten.

Sekarang, Lampung masih jadi produsen lada dengan total luas lahan 45.000 hektar dan produksi 14.860 ton pada 2016 lalu. Sebaliknya, di Banten justru kian sulit ditemukan perkebunan lada skala besar.

Penanda Sejarah

Meski berkembang pesat di Sumatera dan beberapa daerah lainnya, sisa kejayaan perkebunan lada di Banten justru nyaris sirna. Menurut peneliti Balittro, Nurliani Bermawie, varietas lada Banten kini makin sulit ditemukan. Sebaliknya, varietas lada Lampung justru terus berkembang.

Penemuan sisa perkebunan lada tua di kaki Gunung Pulosari, Pandeglang, menjadi pengingat sekaligus penegas bahwa Banten dan Tanah Air ini dikaruniai berkah kesuburan dengan hasil panen melimpah. Dan bonggol-bonggol tua itulah yang menjadi penanda sejarahnya.

Artikel Terkini

5 Rempah yang Mebantu Kontrol Gula Darah

Rabu, 24 Januari 2018 - 20:11 WIB