Rempah-rempah Indonesia yang memperkaya kuliner Indonesia di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 di Frankfurt, Jerman. SARIE FEBRIANE/KOMPAS
Dahulu Diperebutkan, Kini Terpinggirkan
Selasa, 16 Januari 2018 - 20:22 WIB

Aloysius Budi Kurniawan

Harian Kompas/Jakarta

Jauh sebelum kedatangan orang Eropa, Kepulauan Banda, Maluku, telah menjadi magnet yang menarik kedatangan banyak bangsa dari negeri China di utara hingga Jazirah Arab di barat. Seolah tersihir wangi pala, para pedagang asing rela menempuh ribuan kilometer perjalanan berbahaya mengarungi ganasnya lautan yang mengepung kepulauan itu.

Hingga pertengahan abad ke-18, pulau-pulau vulkanis Banda menjadi satu-satunya penghasil tanaman pala di muka bumi. Biji dan bunga pala diburu karena khasiatnya manjur untuk obat-obatan, bumbu makanan, dan wewangian. Karena manfaat dan kelangkaannya, pala menjadi salah satu rempah termahal di dunia.

Nasib Banda

Lewat pala, Banda telah memanggungkan Nusantara ke seluruh penjuru dunia hingga membesarkan sejumlah kota di Eropa dan Asia barat. Namun, setelah berabad-abad pala menghidupi dunia, warga Banda kini masih berkutat dengan sejumlah kebutuhan dasar.

Camat Banda Kadir Sarilan menuturkan, hingga kini dirinya masih sering mengantar orang sakit dan ibu hamil yang memerlukan operasi caesar ke rumah sakit, baik di Pulau Ambon maupun Pulau Seram, menggunakan perahu cepat dari Naira.

Perahu cepat milik kecamatan itu menjadi andalan karena kapal reguler tidak beroperasi setiap hari. Ada dua kapal Pelni dengan rute Naira-Ambon, tetapi jadwal singgahnya hanya dua kali dalam sebulan. Itu pun waktu tempuhnya berkisar 8-9 jam.

Adapun kapal cepat Naira-Ambon beroperasi dua kali seminggu dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Namun, kapal itu baru beroperasi jika penumpang memenuhi jumlah minimal 30 orang dan kondisi cuaca baik.

Dikendalikan Tengkulak

Ironi lain di Banda adalah pala yang dahulu harganya menyaingi emas kini berada dalam kendali tengkulak setempat. Petani pala tunduk di bawah permainan tengkulak. Harga pala pada April lalu Rp 75.000 per kilogram untuk kualitas super dan Rp 35.000 per kilogram untuk kualitas bawah. Harganya cenderung rendah jika kondisi politik dan hukum dalam negeri memberi efek negatif terhadap dunia usaha.

Keprihatinan terhadap kondisi Banda yang menjadi ikon Kepulauan Maluku berkali-kali keluar dari mulut pejabat setempat. Namun, itu tidak seiring dengan apa yang sudah mereka lakukan.

Wacana memoles Banda kembali digulirkan Pemerintah Provinsi Maluku. Pemprov menyatakan Banda sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang saat ini dalam tahap penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan.

Kepala Bagian Humas Pemprov Maluku Bobby Palapia mengatakan, fokus utama KEK Banda adalah pariwisata. ”Kenapa pariwisata? Karena pariwisata Banda berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Banda menawarkan pesona alam dan juga sejarah,” ujarnya.

Wacana KEK Banda sebetulnya pernah didengungkan pada tahun 2013, tetapi—entah kenapa—menguap.

Artikel Terkini

5 Rempah yang Mebantu Kontrol Gula Darah

Rabu, 24 Januari 2018 - 20:11 WIB