Rempah-rempah Indonesia yang memperkaya kuliner Indonesia di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 di Frankfurt, Jerman. SARIE FEBRIANE/KOMPAS
Tantangan Hulu-Hilir Komoditas Rempah
Rabu, 10 Januari 2018 - 23:10 WIB

Mukhamad Kurniawan/Aloysius Budi Kurniawan

Harian Kompas/Jakarta

Lada, pala, cengkeh, kayu manis, dan vanili adalah komoditas utama rempah Indonesia. Setiap tahun, ratusan juta dollar Amerika Serikat diperoleh dari ekspor lima jenis rempah ini. Namun, sampai sekarang pengembangannya belum juga optimal. Kondisi ini tecermin dari sejumlah masalah mendasar yang masih terjadi dan dialami petani di daerah-daerah sentra komoditas itu.

Sepanjang 2015, nilai ekspor lada, pala, cengkeh, kayu manis, dan vanili mencapai 824,37 juta dollar AS. Permintaan terhadap produk rempah diyakini terus tumbuh. Sejumlah asosiasi dan lembaga mencatat kenaikan permintaan dalam beberapa dekade terakhir. Hal itu seiring tren perluasan masakan dan fenomena budaya makan di seluruh dunia.

Fenomena itu terlihat pada tren konsumsi lada. International Pepper Community (IPC) mencatat, rata-rata konsumsi lada per kapita terus naik selama 1975-1995 antara lain di Denmark, Jerman, Belgia, Perancis, dan AS. Di Denmark, konsumsi per kapita bahkan naik signifikan, dari 102 gram pada 1975, menjadi 128 gram di 1980 dan 194 gram pada 1990-1995.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik menunjukkan tren peningkatan. Konsumsi lada warga Indonesia pada periode 2000-2014 rata-rata naik 1,29 persen per tahun. Sementara konsumsi pala naik rata-rata 9,87 persen per tahun selama kurun 2002-2015.

Pengembangan sejumlah komoditas rempah dinilai menjanjikan. Komoditas jahe, vanili, kayu manis, dan lada—berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan— bahkan berada di kuadran ”star ” dalam peta produk ekspor Indonesia. Artinya, tren impor dunia dan ekspor Indonesia sama-sama positif.

Berjuang Sendiri

Perjalanan tim Ekspedisi Jalur Rempah Kompas di sentra-sentra produksi, pada 7 Maret-6 Juni 2017, menemukan problem yang relatif seragam. Tim antara lain menemui petani dan mengunjungi perkebunan lada di Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan; Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung; dan Lampung Timur, Lampung; perkebunan pala di Kepulauan Banda, Maluku; di Ternate, Makian, dan Jailolo, Maluku Utara; serta Pulau Siau, Sulawesi Utara.

Di sentra penghasil lada putih di Kepulauan Bangka Belitung, sejumlah petani merasa berjuang sendiri menghadapi serangan hama penyakit, ketidakpastian cuaca, serta keterbatasan sarana pascapanen. Pada 2015, misalnya, panen kurang optimal karena tanaman terpapar kemarau lebih dari tujuh bulan, padahal idealnya hanya butuh tiga bulan. Ketiadaan saluran air yang mengalir memaksa sebagian petani merendam lada di kolam atau empang yang berisiko kotor.

Petani lada di Bangka Belitung semestinya bergembira karena produknya telah mengantongi sertifikat indikasi geografis (SIG) dan dikenal di pasar rempah dunia dengan sebutan Muntok White Pepper. Harga jualnya lebih mahal. Namun, dukungan terhadap petani serta upaya menjaga mutu dan jumlah produksi dinilai kurang.

”Dukungan pupuk, bibit, dan sarana produksi sangat kurang,” kata Gunawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Lada Indonesia sekaligus petani lada di Bangka.

Sektor hulu atau budidaya memang relatif seadanya. Pemakaian bibit unggul, pemupukan, perawatan tanaman, dan pengendalian hama penyakit menjadi faktor utama keberhasilan produksi lada. Namun, tak sedikit petani yang kebingungan ketika harus mengidentifikasi jenis hama atau penyakit dan mengatasinya. Hama penyakit kadang tak sembuh karena salah identifikasi dan salah ”resep obat”.

Sementara sejumlah petani pala di Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, kesulitan mengonsultasikan problem yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menyayangkan kunjungan penyuluh yang jarang, balai penyuluhan yang kerap kosong, dan kesulitan lain tentang upaya mengolah hasil panen untuk meningkatkan nilai jualnya.

Petani pala di Pulau Siau, Sulawesi Utara, ”memboikot ” pupuk bantuan pemerintah karena dianggap tidak sejalan dengan misi petani meningkatkan mutu pala melalui cara organik. Sosialisasi dinilai kurang, sementara informasi tentang kandungan dan manfaat pupuk tidak diberikan kepada petani calon pengguna. Karung-karung pupuk ditumpuk di kebun atau dijadikan tanggul.

Peneliti sosial ekonomi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Rini Ekwasita, mengatakan, sebagian petani memosisikan rempah sebagai tanaman tabungan, sumber penghasilan sampingan. Karakter panen yang umumnya musiman dan tak kontinyu membuat petani cenderung mencari sumber penghasilan lain yang bisa diuangkan dengan cepat.

Tak sedikit petani yang merasa cukup dengan hasil yang mereka peroleh. Mereka merasa tidak perlu memupuk, merawat tanaman, atau menyemprotkan obat untuk meningkatkan mutu dan jumlah produksi. Faktor lain yang tidak memotivasi petani adalah harga jual yang sama antara rempah bermutu baik dan buruk.

Hilir

Penanganan panen juga belum optimal. Petani pala di sejumlah pulau di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara serta di Sulawesi Utara menjemur biji pala dan fuli (salut biji pala) di atas terpal yang digelar di atas tanah. Kondisi ini rentan memicu pertumbuhan jamur. Namun, petani umumnya tak punya pilihan akibat keterbatasan modal dan lahan.

Padahal, aflatoksin atau racun yang dihasilkan jamur menjadi salah satu komplain paling umum dari pembeli di luar negeri. Dalam beberapa kasus, pala asal Indonesia dilarang masuk oleh otoritas keamanan pangan karena temuan aflatoksin itu.

Perdagangan pala juga masih sulit lepas dari pencampuran dan pemalsuan karena motif mengejar keuntungan. Situasi serupa terjadi pada komoditas lada. Lada yang telah memiliki merek dagang di pasar internasional, yakni Muntok White Pepper dan Lampung Black Pepper, menjadi sasaran karena harganya lebih tinggi. Sayangnya, seperti pada pala, petani yang berupaya menaikkan mutu melalui penyortiran, pengeringan, dan penyimpanan yang lebih baik tidak mendapatkan insentif harga yang signifikan.

Artikel Terkini

Bonggol-bonggol Tua Penanda Sejarah

Kamis, 18 Januari 2018 - 10:59 WIB

Mengamankan Selat Malaka

Rabu, 17 Januari 2018 - 18:08 WIB

Dahulu Diperebutkan, Kini Terpinggirkan

Selasa, 16 Januari 2018 - 20:22 WIB