Kedah merupakan pintu barat dalam perdagangan dengan India dan Arab sejak masa klasik. Kreditasi: Fredy Susanto; Warsono; NGI.
Sriwjaya, Kedatuan, Pusat Perniagaan Rempah, dan Kekuatan Maritim
Rabu, 10 Januari 2018 - 21:40 WIB

Jalur Rempah/Jakarta

Sebagai pusat perniagaan pada abad ke-7, kerajaan Sriwijaya pada masa itu menjadi gerbang globalisasi Nusantara ke Dunia.

Perkembangan Sriwijaya yang pesat bukan suatu proses kebetulan. Sriwijaya mampu mengontrol dan memanfaatkan potensi perdagangan maritim Selat Malaka, suatu kawasan paling penting dalam pelayaran pada masaitu.

Eksistensinya terletak pada kemampuannya dalam mengorganisasi pertukaran komoditi-komoditi di Asia Tenggara untuk pasaran Cina dan Barat, yang dipusatkan di Delta Sungai Musi, yang menghubungkan antara Palembang dengan pesisir pantai serta daerah pedalaman.

Pada pertengahan kedua abad ke-7, terdapat dua pusat perdagangan di pantai tenggara Sumatra, yakni Palembang dan Jambi.

Dua pusat perdagangan itulah yang akhirnya membuka jalan bagi para pedagang-pedagang India dan Cina, dan Arab untuk datang ke Sriwijaya.

Barang dagangan kerajaan Sriwijaya sendiri terdiri dari kayu cendana, pala, cengkeh,dan kapur barus yang diperjual belikan oleh bangsa bangsa China maupun para pedagang Arab.

Selain itu, kerajaan Sriwijaya mampu menjaga keamanan dan benar-benar berfokus diri untuk menjadi negara maritim, di samping letak geografis yang juga menguntungkan.

Jelas kini, mengapa Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi salah satu penguasa utama jalur perdagangan.

Artikel Terkini

5 Rempah yang Mebantu Kontrol Gula Darah

Rabu, 24 Januari 2018 - 20:11 WIB