Kristal putih yang muncul dari pohon kapur disebut resin kapur. Resin ini kerap disebut kamper atau kapur barus. (ASWANDI/KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PERHUTANAN)
Temuan Ahli Antropologi di Balik Mantra Misterius dari Barus
Kamis, 4 Januari 2018 - 18:26 WIB

Mahandis Yoanata Thamrin

National Geographic Indonesia/Jakarta

Untaian mantra yang menyingkap pertalian peradaban Barus dan negeri-negeri nun jauh di seberang lautan lebih dari seribu tahun silam.

“Ketika saya ke Barus, apabila ada orang sakit, ternyata ke dukun dulu, baru pada kondisi tertentu baru ke Puskesmas,” kenang Rusmin Tumanggor. “Jadi Puskesmas itu alternatif, pengobatan primernya adalah dukun.”

Rusmin adalah guru besar bidang antropologi kesehatan dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dalam diskusi santai yang dihelat di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, dia mengisahkan penelitian untuk disertasinya yang bermula sekitar 25 tahun silam. Subjek penelitiannya tentang sistem kepercayaan yang telah memasuki budaya pengobatan tradisional di Barus.

Dia pun menjumpai para datu—sebutan dukun setempat—dan menemukan 395 mantra jampi yang terkait kepercayaan animisme dan dinamisme.

Barus adalah sebuah kawasan pesisir barat Sumatra, bagian Tapanuli Tengah. Riwayat perniagaan selama berabad-abad mencatatnya sebagai penghasil kamper atau kapur barus. Sampai hari ini pohon kapur (Dryobalanops aromatica) penghasil kamper masih tumbuh di Aceh Singkil, Subulussalam, dan Tapanuli Tengah.

Perlu diingat, ungkap Rusmin, bahwa kapur barus yang dimaksud di sini berupa kristal keputih-putihan yang terdapat dicelah lapisan-lapisan kayu kapur atau kamper setelah berumur di atas 50 tahun. "Bukan kapur barus sintetik yang dijual di minimarket-minimarket itu.

Rusmin mengatakan bahwa dalam dosis tertentu kapur barus dapat menghilangkan bau jenazah; dapat diminum mengobati gangguan asam lambung, usus halus, dan perut besar; jika dijilat dan ditelan sedikit dapat menghangatkan temperatur tubuh; mencegah serangga pada lingkungan tempat tinggal. "Kapur barus sudah diperdagangkan di timur tengah," ujarnya, "sebelum Nabi Muhammad mengembangkan Islam."

Buku bertajuk Geographia karya Ptolomaeus, ilmuwan Mesir pada abad kedua, telah menyebut "kelima pulau" Barussie Anthropophagi di antara pulau-pulau Timur Jauh. Tampaknya, Ptolomaeus telah mendengar dari berita yang dibawa para penjelajah samudra bahwa Barus dihuni para kanibal.

Bahkan, kumpulan naskah Mesir abad ke-12 meriwayatkan bahwa kota ini memiliki beberapa gereja Kristen Nestorian dan satu gereja Katolik.

Setidaknya ada dua catatan penjelajah Portugis mengenai denyut perdagangan di Barus. Tome Pires pada awal abad ke-16 mencatat, “…Baros kerajaan yang sungguh kaya, yang juga disebut Panchur atau Pansur.” Sementara itu Diogo Pacheco menyaksikan kapal-kapal asal Cambay (Gujarat), dan empat kapal asal pelabuhan di ujung Sumatra yang sedang berlabuh di Barus pada 1521.

Pesisir barat Sumatra ternyata memiliki sejarah dan keragaman latar budaya. Rusmin pun menyingkap riwayat Barus, bahwa “kawasan ini pernah menjadi pintu masuk agama-agama,” ungkapnya. Berdasarkan bahasa yang digunakan dalam mantra dan jampi Barus, Rusmin menemukan ada beberapa kepercayaan yang menaungi pengobatan para dukun di sini. Mantra yang bercampur doa Islam mudah dijumpai di Barus, juga kawasan Nusantara lainnya. Namun, dia juga menjumpai mantra yang dipengaruhi bahasa Tiongkok dan bahasa Ibrani.

Mantra yang diawali “hong” dan diakhiri “hah” di Barus, demikian ungkap Rusmin, tampaknya dipengaruhi penutur kepercayaan asal Tiongkok.

Sumber-sumber sejarah yang sampai pada kita hingga hari ini menunjukkan sederet catatan penjelajah asal Cina yang berkisah tentang daerah penghasil kamper di Nusantara. Sejak abad keenam, Cina memang mulai menyebut toponimi Poluosua, Polu, Pulushi yang merujuk asal kamper—yang mungkin berkaitan dengan Barus.  Namun, Rusmin menduga bahwa pengaruh Cina terhadap budaya Barus mungkin jauh sebelum abad keenam—mungkin ribuan tahun sebelumnya.

Dia juga meyakini bahwa ajaran Yahudi pernah hidup di Barus. Salah satu buktinya, untaian teks mantra dan jampi yang digunakan dukun  untuk mengusir atau menyembuhkan penyakit. “Ben somer lah be rahaman be rahamin…,” demikian mantra berbahasa Ibrani yang bersumber dari pustaha agama setempat, Sipele Sumangot.

“Ibrani sudah ada hubungan dengan Barus karena sudah tertulis di Pustaha ini,” ujar Rusmin. “Pertanyaannya: Apakah orang Barus ke Israel atau orang Israel ke Barus? Tidak mudah menjawabnya.” Kemudian dia melanjutkan, “Kemungkinan orang luar sudah datang ke Barus untuk berdagang.”

Rusmin meyakini bahwa peradaban Barus sudah ada sebelum masuknya Islam ke Nusantara. Dia mengutip ayat Alquran yang mencatat kata “kaafuuraan” yang bertalian dengan penggambaran surga yang memiliki air berkamper atau air berkapur barus. "Mungkin, inilah satu-satunya sumbangan bahasa Melayu dalam Alquran."

Dia mengutip Surat Al-Insaan ayat 5, "Inna al-abraara yasyrabuuna min ka'sin kaana mizaajuhaa kaafuuraan. Artinya, 'Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum air dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kapur'."

Seberapa tuakah peradaban Barus? Tampaknya, terdapat sedikit perbedaan antara jejak sejarah Barus dari naskah dan mantra yang berhasil diungkap Rusmin dan temuan artefak yang berhasil disingkap oleh ahli arkeologi.

Para ahli arkeologi Indonesia dan Prancis pernah meneliti Barus pada akhir 1980-an hingga 1990-an. Claude Gullot dan koleganya menuturkan tentang temuan tersebut dalam buku mereka bertajuk, Barus Seribu Tahun Yang Lalu yang terbit pada 2008. Mereka menemukan struktur benteng kota, dan ribuan pecahan tembikar dari Timur Tengah, Asia Selatan, hingga keramik Cina.

Berdasarkan temuan itu mereka menduga bahwa hunian kuno Barus bermula sekitar pertengahan abad ke-9 hingga akhir abad ke-12. Setelah pemusnahaannya, demikian laporan mereka, situs ini tampaknya baru “ditemukan kembali” pada pertengahan abad ke-19. Artinya, peradaban tertua yang ditemukan di Barus berusia sekitar seribu tahun.

Para ahli arkeologi itu juga mengungkapkan rute pelayaran baru pada zaman Kekhalifahan Fatimiyah, yang menautkan bagian timur dari Laut Tengah dengan Barus. Naskah-naskah di Fustat, Mesir, tampaknya memberi pemaparan soal kamper sebagai obat dan barang dagangan bagi orang-orang Yahudi di kota tersebut. Bahkan, Robert S. Wicks, ahli numismatika dan guru besar di Miami University Art Museum, menyelisik temuan sekeping mata uang perak di Fustat yang ternyata berasal dari Barus.

 

Riwayat lainnya tentang kapur barus adalah tentang Kota Gondeshapur. Kota dalam peradaban Mesopotamia itu merupakan kota penting bagi perjumpaan orang Kristen Nestorian, orang Arab, orang Yahudi, dan orang India. Kota ini berperan dalam penyebaran kapur barus dan obat-obatan lainnya ke Eropa.

Kamper pernah melimpah di Barus. Kristal-kristal putih itu telah banyak dicatat oleh para penjelajah dan pemburu rempah, bahkan kitab suci. Namun, mengapa jejak Barus sebagai pusat perdagangan seolah pupus?

“Bisnis tidak selalu meninggalkan jejaknya,” ujar Rusmin mantap.

Artikel Terkini

Bonggol-bonggol Tua Penanda Sejarah

Kamis, 18 Januari 2018 - 10:59 WIB

Mengamankan Selat Malaka

Rabu, 17 Januari 2018 - 18:08 WIB

Dahulu Diperebutkan, Kini Terpinggirkan

Selasa, 16 Januari 2018 - 20:22 WIB