JOHNNY TG/KOMPAS
Jejak Diplomasi Lada Lintas Benua
Rabu, 27 Desember 2017 - 19:59 WIB

Aloysius B Kurniawan

Harian Kompas/Jakarta

Bonggol-bonggol tua di lereng Gunung Pulosari, Desa Pandat, Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, membuka mata Somad (60). Kebun tak terawat itu merupakan harta sekaligus saksi diplomasi lintas benua.

Ladalah yang memanggilnya kembali ke kebun itu. Sembari menenteng tas kain kumal dengan golok terselip di pinggang, Somad (60) menyusuri lereng Gunung Pulosari.

Lima tahun terakhir, ia memutuskan berhenti kerja sebagai sopir dan beralih bekerja sebagai petani sekaligus penjual lada.

”Dulu, saya tak pernah menjamah hutan di sini. Namun, setelah bertahun- tahun mengamati tingginya permintaan pasar lada, akhirnya saya berhenti jadi sopir dan fokus menanam serta jualan lada,” ujarnya.

Somad, yang setiap hari hilir mudik Banten-Lampung semasa menjadi sopir, lama-kelamaan paham bahwa lada masih sangat diminati. ”Berapa pun jumlahnya pasti ada yang beli, baik itu lada hitam maupun putih,” ucapnya.

Di lereng Gunung Pulosari tempat tinggal Somad masih bisa ditemukan tanaman- tanaman lada tua. Diperkirakan tumbuhan- tumbuhan itu adalah sisa perkebunan tua Kerajaan Banten Girang yang dahulu menjadi penghasil utama lada.

Meski jejaknya masih ditemukan, kejayaan lada Banten kini nyaris sirna. Gudang- gudang lada di Kampung Pamarican samping Benteng Speelwijk, Banten Lama, telah berubah menjadi permukiman padat.

”Pamarican dulu merupakan gudang-gudang merica atau lada,” kata arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Sonny Wibisono.

Hasil sketsa ilmuwan Belanda, Serrurier, pada 1902 menunjukkan bagaimana Kesultanan Banten dirancang dengan sangat terstruktur. Kota pesisir itu dibagi dalam 33 permukiman yang sangat multikultur, antara lain Karangantu (kampung orang asing), Kebalen (kampung orang Bali), dan Karoya (kampung pribumi).

Cornelis de Houtman yang berlabuh di Banten pada 27 Juni 1596 terkesima dengan kota kecil yang menurut dia mirip Amsterdam itu. Kota Banten Lama dibangun dengan tata kota yang sangat teratur.

Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten, daerah itu sudah berkembang sebagai daerah penghasil lada. Akhir abad ke-12, penulis China, Zhao Rugua, sudah menyebut Sin-t’o atau Sunda yang tak lain adalah Banten sebagai daerah penghasil lada.

Awalnya, pusat pemerintahan Banten berada di pedalaman, yaitu Banten Girang yang berjarak 56 kilometer dari Banten Lama. Namun, pada akhir 1526, pasukan Demak yang dipimpin Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, merebut Pelabuhan Banten dan ibu kota Banten Girang.

Proses perebutan Banten Girang oleh Demak berlangsung dramatis. Raja Sunda atau Raja Banten Girang sempat meminta bantuan Portugis untuk melawan Demak.

Sebagai gantinya, Portugis diperbolehkan membangun benteng dan akan diberi 1.000 karung lada atau sekitar 160 bahar (11.200 kilogram) lada setiap tahun. Akan tetapi, tawaran itu tak segera ditanggapi Portugis sampai Banten Girang direbut pasukan Demak pada akhir 1526.

Kontak Banten dengan dunia internasional dipertegas dengan penemuan pecahan keramik-keramik China Dinasti Song Selatan dan Yuan pada 1990-1993. Artefak-artefak itu tertimbun di kedalaman 5-7 meter.

Seperti dicatat Zhao, mulai dari akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-17, China menjadi pembeli utama lada berkualitas Banten. Perdagangan lada Banten ke China surut ketika JP Coen melarang paksa perahu- perahu jung China merapat di Pelabuhan Banten (Claude Guillot, Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII/2008).

Bergesernya pusat pemerintahan Banten ke daerah pesisir pada 1526-1570 semakin mengukuhkan Banten sebagai kota perdagangan internasional dengan lada sebagai alat diplomasinya. Surat Sultan Abul Fath kepada Raja Inggris Charles II pada 1664, misalnya, disebut sebagai surat persahabatan yang disertai pengiriman 100 bahar (7.000 kg) lada hitam dan 100 pikul jahe sebagai bentuk cinta dan perdamaian. Rempah-rempah itu ditukar senjata.

”Lada telah mengantar Banten sebagai sentra niaga dan kota maritim multikultur, seperti Malaka di Semenanjung Melayu, Ayutthaya di Thailand, Hoi An di Vietnam, Amoy di Xiamen, China; Deshima di Taiwan, dan Sakai di Jepang. Pertumbuhan ini menandai kejayaan Asia, terutama sebelum Eropa datang,” papar Sonny.

Pusat Kesultanan Banten hanya seluas 1 kilometer x 1 kilometer. Namun, berkat lada, daerah itu bisa berhubungan dengan negara-negara lintas benua, seperti China, Arab, Portugal, Inggris, Denmark, dan Belanda.

Lebarkan Sayap

Tingginya permintaan lada dari luar negeri membuat Banten harus menambah pasokan lada. Kesultanan ini akhirnya melebarkan sayap kekuasaan hingga ke Lampung.

”Di Lampung tidak ada kerajaan yang besar. Untuk mendapatkan pengakuan dari Banten, para pemimpinnya melakukan tradisi seba ke Banten dan sultan pun memberikan lawang kuri (sepasang pintu dari kayu jati),” kata Kepala Seksi Pelayanan Museum Lampung Budi Supriyanto.

Sekarang, lada hitam lampung atau lampung black pepper masih sangat dikenal pasar rempah dunia, selain muntok white pepper asal Bangka. Namun, apakah lada dari Lampung masih menjadi ”duta diplomasi” di panggung internasional seperti era Kesultanan Banten dahulu?

Faktanya, Indonesia sekarang tak lagi menjadi produsen lada terbesar dunia. Kapasitas produksi lada Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Vietnam yang pada era 1980-an belajar menanam lada ke Indonesia.

Artikel Terkini

5 Rempah yang Mebantu Kontrol Gula Darah

Rabu, 24 Januari 2018 - 20:11 WIB