Biji dan bunga pala dijemur warga Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo, Maluku Utara, Sabtu (18/5/2013). AMANDA PUTRI/KOMPAS
Riwayat Pala di "Pulau Surga"
Kamis, 31 Agustus 2017 - 10:04 WIB

Wisnubrata

Kompas.com/Jakarta

Oleh: Gregorius Magnus Finesso & M Clara Wresti

RIWAYAT pala di benak masyarakat Kepulauan Banda, Maluku, adalah prosa panjang kejayaan sekaligus kegetiran sepenggal peradaban suku bangsa. Pala telah mengangkat nama Banda menjadi kota internasional strategis dalam percaturan perdagangan rempah-rempah. Namun, pala pula yang membawa petaka bagi orang Banda hingga tercerabut dari tanah kelahiran mereka.

Tubuh legam Sudin Ongen (47) mengilap disengat terik matahari suatu siang di bulan Juni. Tanpa memedulikan lalu lalang turis, penduduk Pulau Ai, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, itu terus membolak-balik biji pala berwarna hitam yang sedang dijemur dan memisahkannya menjadi beberapa bagian. Ikut dijemur dengan biji pala adalah fuli atau kulit biji pala berwarna merah menyala.

”Ini beta (saya) pisah tiga, kualitas paling baik, sedang, dan paling jelek,” ujar laki-laki yang mewarisi sebidang kebun pala dari ayahnya sejak lima tahun terakhir itu.

Panen kali ini bukanlah panen raya. Dari 200 pohon miliknya, hanya mampu dihasilkan rata-rata 2 kilogram (kg) per pohon. Pada saat panen raya, hasilnya bisa 5 kg per pohon. Panen raya hanya sekali setahun, sedangkan panen biasa sebanyak dua kali setahun.

Namun, sebagaimana petani-petani komoditas lain, posisi tawar Sudin dan ribuan petani pala lain dalam rantai perdagangan sangat lemah. Harga ditentukan pasar, terutama kondisi ekonomi Eropa.

Biji pala kering kualitas terbaik di Pulau Ai pernah dihargai hingga Rp 150.000 per kg, tetapi saat ini hanya Rp 90.000 per kg. ”Masih lumayan karena harganya pernah lebih jatuh lagi,” kata Sudin yang menjual pala ke Banda Neira.

Panen kali ini Sudin mendapatkan sekitar Rp 36 juta. Hasil yang sangat cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Dari hasil itu, ia mampu membiayai sekolah anak sulungnya yang tahun ini masuk perguruan tinggi di Ambon.

Diincar Petualang Eropa

Hampir seluruh bagian buah pala (Myristica fragrans) dapat menghasilkan uang. Daging buah bisa dibuat manisan dan sirup. Fuli untuk bumbu masak atau diekstrak sarinya menjadi bahan baku kosmetik dan parfum. Harga fuli lebih tinggi dibandingkan harga biji pala. Harga 1 kg fuli yang dihasilkan dari 6 kg biji pala Rp 120.000.

Bagian biji adalah yang paling banyak dimanfaatkan. Biji pala dihaluskan menjadi beragam bumbu masak, parfum, kosmetik, minyak atsiri yang harganya mencapai Rp 1 juta per kg, hingga bahan pengawet.

Kegunaan pala yang beragam itu membuat pala menjadi incaran pedagang Eropa sejak abad ke-15. Dalam buku Mutiara dari Timur (1996) yang ditulis Burhan Bungin disebutkan, rempah-rempah, termasuk pala dari pulau yang dijuluki ”Surga dari Timur” itu, merupakan primadona ekonomi di negara-negara Atlantik Utara.

Rempah-rempah Maluku dikenal sejak zaman Romawi, dibawa pedagang China yang melayari Kepulauan Maluku hingga daratan China. Rempah-rempah juga dibawa pedagang India melintasi Asia Tengah-Asia Barat hingga Beirut, Lebanon.

Dari sana, rempah-rempah disebar pedagang Arab di seputar Mediterania. Pusat perdagangan bagi Eropa berpusat di Venezia dan Genoa, Italia. Berbagai catatan perjalanan para petualang Eropa menyebutkan, nilai segenggam biji pala saat itu setara dengan segenggam emas.

Akhirnya, saat Kesultanan Wangsa Utsmaniyah menguasai Konstantinopel (Istanbul), bangsa-bangsa Eropa pun mencari jalan menuju Maluku. Dengan jalur lintas niaga laut hasil rintisan para pelaut Arab yang mahir ilmu falak, musafir Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris berhasil mendarat di Kepulauan Maluku.

Kendati Portugis yang pertama menguasai Maluku, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang diteruskan pemerintah kolonial Belanda lewat politik perdagangan rempah-rempah telah memberi pengalaman kolonialisme penuh penderitaan dan kekejaman paling dalam. Salah satunya peristiwa keji yang masih membekas di benak orang Banda.

Pada 18 Mei 1621, sebanyak 44 orang terpandang Banda dibantai atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen. Ini aksi balas dendam berdarah yang dipicu pembunuhan terhadap pendahulunya Laksamana Verhoeven.

Desa di sekitar batu peringatan Parigi Rante yang menjadi tempat pembantaian tersebut dinamai Desa Kun, dari nama Coen. Di monumen itu ditulis, sekitar 6.600 orang dibunuh dan 789 orang diasingkan ke Batavia (Jakarta). Sementara 1.700 orang melarikan diri ke Banda Eli (Pulau Kei Besar) dan Pulau Seram. Hanya sisa sepertiga orang asli Banda di Pulau Neira.

Demi monopoli pala pula, Belanda rela menukar wilayah koloninya di Nieuw Amsterdam (kini New York) dengan Pulau Run yang dikuasai Inggris. Ironisnya, dalam Kepulauan Banda, Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala (1983), Willard A Hanna menyebutkan, VOC pula yang kemudian membakar puluhan ribu pohon pala di Pulau Lonthoir, Ai, dan Run supaya pulau-pulau itu tidak diminati bangsa Eropa lain.

Di buku yang sama, Reinier de Klerk, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1777-1780), mencatat, pada 1756 pendapatan VOC dari penjualan pala dan fuli mencapai 1,8 juta gulden. Namun, akibat perilaku sembrono dan manajemen yang buruk dari para perkenier (pemilik kebun pala), pada permulaan abad ke-20 perdagangan rempah-rempah di Banda hanya menyumbang 20.000 gulden per tahun bagi Belanda.

Pesona Banda mulai meredup seiring keberhasilan penanaman pala di negara lain, seperti Sri Lanka, Zanzibar (Tanzania), India, dan Madagaskar. Di Nusantara, pala mulai ditanam di Sumatera dan Jawa.

Walau begitu, pala tetap jadi sumber pendapatan utama penduduk Banda. Di Desa Lonthoir, Pulau Banda Besar yang merupakan pusat perkebunan pala terbesar di Banda, seluruh warganya menggantungkan hidup dari pala.

Artikel Terkini

Cengkeh, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Kamis, 19 Oktober 2017 - 13:23 WIB

Harum Rempah, Derita Petani

Selasa, 17 Oktober 2017 - 13:11 WIB